• KOP SURAT

Selamat Datang di Website SMP SWASTA ABDI SEJATI PERDAGANGAN. Terima Kasih Atas Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


SMP SWASTA ABDI SEJATI PERDAGANGAN

NPSN : 10202751

Jl.Jenderal Sudirman No.273 Kec.Bandar - Perdagangan, Simalungun


info@smpswasta-abdisejati.sch.id

TLP : 081260970622


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai sekolah kami?
Sangat Bagus
Bagus
Tidak Bagus
  Lihat
Jika ada yang mau ditanyakan, silahkan mengajukan pertanyaan melalui email
Ya, Terimakasih
Tidak, Terimakasih
  Lihat
Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 61977
Pengunjung : 20292
Hari ini : 43
Hits hari ini : 60
Member Online : 0
IP : 18.208.187.128
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Tiga Strategi Penting Membangun Budaya Literasi pada Sekolah




3 Strategi Penting Membangun Budaya Literasi di Sekolah

 

Dalam rangka pemberantasan buta aksara, peningkatan minat baca, pembinaan budaya literasi masyarakat, dan peningkatan daya saing bangsa melalui penguatan program pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan Kampanye Literasi Nasional (GLN) pada tahun 2016, di antaranya Kampanye Literasi Sekolah salah satu programnya.

Literasi di Sekolah (GLS) adalah kampanye literasi yang kegiatannya terutama dilakukan di sekolah dengan melibatkan siswa, pendidik, tenaga kependidikan dan orang tua, untuk menunjukkan praktik literasi yang baik dan menjadikannya sebagai kebiasaan dan budaya.

Tujuan dari GLS adalah agar sekolah menjadi organisasi pembelajaran yang literat dan membentuk warga sekolah yang literasi dalam literasi, numerasi, sains, angka, keuangan, budaya dan kewarganegaraan. Dalam pelaksanaannya, kampanye literasi sekolah menyasar ekosistem sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Jika dikaitkan dengan metode pembelajaran Kurikulum 2013, dengan siswa sebagai badan utama pembelajaran dan guru sebagai fasilitator, kegiatan literasi sekolah tidak lagi hanya terfokus pada siswa. Guru tidak hanya sebagai pemandu, tetapi juga sebagai subjek pembelajaran.

Akses yang luas terhadap sumber informasi di dunia nyata dan maya memungkinkan siswa untuk memahami lebih baik daripada guru. Oleh karena itu, kegiatan literasi siswa tidak boleh lepas dari kontribusi guru, yang harus berupaya menjadi fasilitator yang berkualitas. Guru dan pembuat kebijakan sekolah harus menjadi role model literasi di sekolah.

Dalam konteks sekolah, subjek dalam kegiatan literasi adalah peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan (pustakawan, pengawas), dan kepala sekolah. Semua komponen warga sekolah ini berkolaborasi dalam Tim Literasi Sekolah (TLS) di bawah koordinasi kepala sekolah dan dikuatkan dengan SK kepala sekolah. TLS bertugas untuk membuat perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen program. TLS dapat memastikan terciptanya suasana akademis yang kondusif, yang mampu membuat seluruh anggota komunitas sekolah antusias untuk belajar. 

Dalam membangun budaya literasi yang positif di sekolah, terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah:

1. Mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi

Lingkungan fisik adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan warga sekolah. Oleh karena itu, lingkungan fisik perlu terlihat ramah dan kondusif untuk pembelajaran. Sekolah yang mendukung pengembangan budaya literasi sebaiknya memajang karya peserta didik di seluruh area sekolah, termasuk koridor, kantor kepala sekolah dan guru. Selain itu, karya-karya peserta didik diganti secara rutin untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta didik. Selain itu, peserta didik dapat mengakses buku dan bahan bacaan lain di Sudut Baca di semua kelas, kantor, dan area lain di sekolah. Ruang pimpinan dengan pajangan karya peserta didik akan menunjukkan pengembangan budaya literasi. Dalam hal ini setiap sekolah perlu memenuhi standar pelayanan minimal yang ditetapkan oleh pemerintah.

2. Mengupayakan lingkungan sosial dan afektif

Lingkungan sosial dan afektif dibangun melalui model komunikasi dan interaksi seluruh komponen sekolah. Hal itu dapat dikembangkan dengan pengakuan atas capaian peserta didik sepanjang tahun. Pemberian penghargaan dapat dilakukan saat upacara bendera setiap minggu untuk menghargai kemajuan peserta didik di semua aspek. Prestasi yang dihargai bukan hanya akademis, tetapi juga sikap dan upaya peserta didik. Dengan demikian, setiap peserta didik mempunyai kesempatan untuk memperoleh penghargaan sekolah. Sekolah bisa menyelenggarakan festival buku, lomba poster, mendongeng, karnaval tokoh buku cerita, dan sebagainya.agar literasi dapat mewarnai semua perayaan penting di sekolah sepanjang tahun.

3. Mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademis yang literat

Lingkungan fisik, sosial, dan afektif berkaitan erat dengan lingkungan akademis. Ini dapat dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan literasi di sekolah. Sekolah sebaiknya memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan/atau guru membacakan buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung. Untuk menunjang kemampuan guru dan staf, mereka perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti program pelatihan peningkatan pemahaman tentang program literasi, pelaksanaan, dan keterlaksanaannya. Sobat SMP juga dapat mengunduh modul-modul yang diterbitkan Direktorat SMP sebagai bahan bacaan yang dapat mendukung gerakan literasi di sekolah.

 

Dokumen referensi :

https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/wp-content/uploads/2019/07/Desain-Induk-Gerakan-Literasi-Sekolah-2019.pdf

https://paska.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2018/08/170823-V.3-GLN-.pdf




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas